Kamis, 28 Februari 2013

Film Nasional dan Representasi Budaya


Politik, ekonomi, dan ideologi. ‘Tiga sekawan’ yang tak pernah luput dari sebuah perfilman nasional. Bukanlah sesuatu yang sempurna ketika salah satu dari tiga hal tersebut dipisahkan karena memang telah menjadi satu paket nilai yang terkandung dalam film-film berbau nasional, sebuah film yang dianggap dapat menebarkan budaya-budaya bangsa kepada warga negaranya. Representasi budaya sangat dibutuhkan dan memang perlu menjadi fokus sebuah narasi film nasional.

Film nasional memang masih dibutuhkan oleh dunia untuk menanamkan budaya bangsa masing-masing. Sayangnya, tujuan tersebut memiliki satu masalah yang dapat dikatakan sebagai penghambat dalam mencapainya. Sebut saja, Hollywood, sebuah industri film yang sangat besar dan dikenal oleh dunia. Hollywood yang dimiliki oleh Amerika Serikat ini telah memonopoli pasar domestik industri perfilman. Siapa pun tentunya sudah pernah mengonsumsi film hasil industri Amerika Serikat ini dan kebanyakan dari mereka tidak dapat menonton dan mengamati film secara mendalam. Sesungguhnya ketika orang-orang bersedia untuk menonton film dengan lebih cerdas, mereka akan menemukan nilai-nilai yang sengaja disiratkan oleh Hollywood ini.

Betapa bahayanya nasib bangsa ketika harus menanamkan budaya bangsa lain kepada rakyatnya. Kanada, Australia, Inggris, dan Italia menjadi contoh dari negara yang dimaksud yaitu dengan mendirikan lembaga-lembaga yang digunakan untuk mendanai dan memproduksi film-film nasional sesuai dengan identitas bangsa yang dimiliki oleh masing-masing. Aksi bangsa-bangsa tersebut ternyata didasari oleh pernyataan Frederic Jameson bahwa seharusnya film-film produksi nasional dibuat sebagai tindakan ideologis yang berfungsi sebagai salah satu cara dalam pemecahan masalah-masalah sosial yang terjadi.

Selain itu, sesuatu yang cemerlang ternyata dilakukan oleh negara-negara yang walaupun berada di bawah tekanan tetap ingin menyebarkan budaya-budaya melalui nilai ideologi, politik, dan ekonomi dalam sebuah film nasional. Negara Italia mulai mengadaptasi genre-genre film dari Hollywood yang kemudian disajikan sesuai dengan kebudayaannya sendiri. Begitu pula dengan Kanada dan Australia yang berusaha mengadaptasi material-material dari film nasional ala Hollywood. Beberapa contoh film yang berhasil diadaptasi namun tetap menggunakan gaya khas masing-masing ialah The Grey Fox (1982, Kanada), Road to Saddle River (1993, Kanada), dan yang lebih dikenal lagi ialah Crocodile Dundee (1986, Australia) dan serial Mad Max (1979, 1981, 1985, Australia).
Dengan semakin larisnya industri film di mata dunia, maka lahirlah artis-artis hebat yang dianggap mampu membawa nama industri film ke dalam pasar domestik perfilman. Salah satu praktisi pengadaptasian genre film yang sukses ialah France’s Luc Besson. Namanya berhasil melambung tinggi seiring dengan masuknya film yang dibuatnya, Nikita, dalam sebuah box-office. Sejak saat itu, Besson berkarir dalam industri film Amerika dengan membuat sebuah film yang telah dikenal, yaitu The Professional (1994) dan The Fifth Element. Kedua film ini dibuat dengan gaya Perancis namun tidak seutuhnya dan akhirnya menimbulkan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan bentuk representasi budaya Perancis atau bukan.

Hal mengadopsi genre film Amerika ini juga dilakukan oleh sutradara Australia. Kedua pihak bekerja sama dan menghasilkan film Moulin Rouge (2001). Keberhasilan dari adanya kerja sama ini telah membuat pandangan bahwa ternyata hubungan ini dapat dilakukan untuk memperlihatkan sebuah ruang budaya Australia, yang kemungkinan dapat terjadi pula oleh negara-negara lain. Namun, Higson berpendapat ada hal yang lebih penting dari itu yaitu dapat diterimanya film tersebut secara global. Ini merupakan pertanda baik yang tampak ketika harus merilis sebuah film nasional yang ingin diterima oleh dunia.

Beberapa hal di atas setidaknya cukup mengungkapkan bahwa nilai politik, ekonomi, dan ideologi memang dibutuhkan, bahkan harus menjadi fokus dalam mengembangkan film-film nasional. Suatu bangsa dapat dikatakan perlu membangun kerja sama dengan penguasa pasar film domestik agar dapat menebarkan budaya-budayanya. Tanpa didukung nilai-nilai tersebut dan juga strategi, film-film nasional tidak lebih berarti di mata dunia, terlebih bagi bangsa itu sendiri. Setidaknya bangsa lain dapat menyiasati agar mereka dapat memproduksi film nasional yang berkualitas baik

Review dari artikel NATIONAL CINEMA, POLITICAL ECONOMY, AND IDEOLOGY yang terarsip dalam


Mengapa?



Mengapa harus ada bayang-bayang masa lalu?

mengapa?


mengapa?



dan mengapa?

Selasa, 26 Februari 2013

Citizen Kane: Inspirasi Film Masa Kini

Tidak semua hitam putih itu flat. 
Kesan itulah yang ditunjukkan oleh sebuah film berjudul “Citizen Kane”. Film yang disutradarai oleh Orson Welles ini telah memberikan arti yang sangat penting bagi perkembangan sejarah perfilman di dunia. Brilliant! Film ini berhasil membuat saya berpikir dan terus bertanya-tanya dalam hati. Cerita apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini. Di awal cerita, sutradara berhasil menimbulkan kesan horor melalui shoot gambar dan lantunan musik yang berbau mistis pula. Pergantian gambar demi gambar di awal film terjadi secara perlahan dan benar-benar memberikan kesan yang mencekam terlebih didukung dengan warnanya yang hitam putih.

Ternyata, film ini sama sekali tidak menceritakan kisah hantu seperti yang sudah sering ‘bergentayangan’ di masa sekarang. Film “Citizen Kane” ini menceritakan tentang kehidupan seorang miliader bernama Charles Kane. Banyak sisi positif dan negatif yang dapat diambil dari cerita dalam film tersebut. Film ini merupakan film hitam putih terpanjang pertama kali dengan durasi 1 jam 59 menit. Film ini merupakan salah satu film berkualitas yang pernah saya tonton. Ada beberapa hal yang memosisikan film tersebut sebagai film yang berperan penting dalam perkembangan sejarah film di dunia.

Hal pertama yang paling kuat dan menonjol tampak pada film ini adalah alur ceritanya. Untuk pertama kalinya, sebuah film hitam putih menggunakan alur maju dan mundur (alur campuran). Awal mula yang sangat baik bagi kemajuan bidang industri perfilman. Film tampak tidak membosankan. Berbeda dengan film hitam putih sebelumnya yang hanya menggunakan alur maju dengan tahap cerita yang maju perlahan demi perlahan. Justru konsep cerita seperti itu akan membuat para penonton semakin mudah jenuh dan kurang bisa menikmati ide cerita yang ingin disampaikan.

Hal kedua yang tak kalah menariknya dari film ini ialah teknik pengambilan gambar yang sudah semakin baik. Dalam film ini, pengambil gambar telah mengenal teknik pemfokusan objek. Teknik ini terlihat dalam beberapa adegan. Di scene pertama, teknik tersebut ditunjukkan melalui sebuah pengambilan gambar pagar rumah yang difokuskan dan latar belakang pagar tersebut dibuat lebih nge‘blur’. Ketika di awal diperlihatkan sebuah tulisan “No Trespassing”, pengambil gambar juga melakukan teknik tersebut. Atau bahkan ada gambar ketika hujan dan seorang pengambil gambar menunjukkan palang besar yang terdapat di atas kafe milik istri dari Kane. Pertama gambar palang tersebut yang difokuskan, lalu titik fokus diubah pelan-pelan ke objek di belakang palang tersebut.

Hal ketiga yang menjadi faktor pendukung menariknya film tersebut ialah adanya sebuah musik yang sengaja diputarkan sebagai latar belakang suara. Musik-musik yang dilantunkan sungguh membantu film untuk mengkomunikasikan suasana sehingga penonton seolah-olah menyatu di dalam film tersebut. Ketiga hal penting yang telah terpapar di atas menunjukkan bahwa pembuatan film tersebut telah mulai memanfaatkan kemajuan teknologi. Tak hanya itu, kehebatan mereka dalam mengemas film Kane ini sungguh dikagumi oleh bidang industri perfilman.

Lebih mengagumkan ketika hal-hal tersebut menyebabkan lahirnya banyak film yang sampai sekarang masih menggunakan gaya film yang dirilis tahun 1941 ini. Pada film sekarang, sudah banyak yang mengikuti gaya film Kane yang menggunakan narator di awal cerita. Bedanya, pada film Kane, narasi dilakukan oleh narator yang tidak mengambil peran double sebagai aktor. Sedangkan film zaman sekarang, seorang narator adalah pemain film itu sendiri yang seolah menceritakan kehidupannya di dalam film tersebut.

Teknik pengambilan gambar dan penyisipan musik ke dalam film sekarang juga sudah lebih hebat karena didukung dengan alat yang semakin canggih pula. Selain itu, semakin banyak film yang menggunakan alur campuran agar terkesan menarik. Kemajuan-kemajuan inilah yang dapat dirasakan oleh industri perfilman. Tak heran jika “Citizen Kane” dianggap penting dan bersejarah dalam perkembangan film di dunia.
gambar diambil dari senseofcinema.com


*ditulis untuk tugas mata kuliah "Kajian Film"
2 November 2010

Senin, 25 Februari 2013

Quote 1




"Jangan takut kalau kemajuanmu sangat lambat. Takutlah kalau tidak ada kemajuan sama sekali."

- @MerryRiana -
via Twitter
25 Febuari 2013


oh, thanks! I love it :)

Minggu, 24 Februari 2013

BEBAN

Saat merasa diri ini adalah BEBAN bagi orang lain
Sungguh, aku hanya ingin semua berhenti sampai di sini
Aku ingin BEBAS



Kamis, 21 Februari 2013

nge-pas!

percaya di atas langit masih ada langit.

apalagi setelah menjamurnya acara-acara ajang bakat (bidang menyanyi) di Indonesia.

intinya iri banget sama kemampuan orang-orang Indonesia dalam bernyanyi.
gue suka nyanyi dari kecil tapi nggak punya kemampuan seperti mereka.
entah gue yang pernah mau dan bisa mengeksplor, entah emang kemampuan gue ya sebatas jadi penyanyi di kamar mandi.

Puji Tuhan, sejauh ini kemampuan gue yang pas-pasan ini belum pernah merugikan orang lain. eh, tapi nggak tau juga.
tapi, yaudahlah ya.
tetap bersyukur aja :)

Rabu, 20 Februari 2013

Dasar dalam Mengkaji Media

Setiap hal tentu memiliki dasar yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang. Dasar-dasar tersebut pun berbeda, tergantung bendanya. Keadaan itu berlaku pula untuk ilmu komunikasi. Hal yang menjadi dasar dalam ilmu komunikasi adalah sebuah teori. Media sebagai salah satu komponen dalam ilmu komunikasi memiliki teori-teori dasar yang ingin memberikan pandangan dan cara dalam berinteraksi dengan masyarakat berupa penyajian informasi. Menurut Fred Siebert, Thedore Peterson, dan Wilbur Scrhamm di tahun 1956 ada tipologi empat teori dasar untuk mengkaji suatu media, yaitu otoritarian, libertarian, tanggung jawab sosial, dan komunis.

Teori otoritarian merupakan teori yang paling tua. Media atau pers dianggap sebagai alat negara untuk mempropaganda masyarakat. Media juga hanya dapat membawa dan menyampaikan pesan dari pemerintah kepada masyarakat. Posisi media tersebut akhirnya dapat tergolong sebagai media yang terkekang karena dikendalikan oleh negara. Libertarian, merupakan teori yang memiliki pandangan bahwa media bersifat aktif. Tugasnya bukan sebagai alat negara, tetapi  sebagai pencari kebenaran. Teori ini berbanding terbalik dengan otoritarian. Media dianggap sebagai sesuatu yang independen, bebas, dan otonom.

Teori tanggung jawab sosial berpendapat bahwa sistem kepemilikan media yang monopolistik ternyata dapat menciptakan kekhawatiran berlebih terhadap masyarakat dan pemerintah. Dalam teori ini, ada kontrol sosial untuk masyarakat terhadap pers. Selain itu, pers juga dianggap sebagai medium untuk membicarakan konflik yang tengah terjadi di dalam masyarakat dan negara yang menganutnya. Komunis, merupakan teori keempat sebagai dasar dalam mengkaji pers. Munculnya teori komunis ini tidak berdasarkan pada motif keuntungan. Hampir sama dengan otoritarian, pihak yang memiliki pers ialah negara. Hal yang paling penting ialah teori komunis ini ingin menunjukkan bahwa pers merupakan korban mentalitas tuan (negara) dan hamba (pers). Pernyataan tersebut memberikan arti bahwa pers hanya bekerja sebagai “pesuruh” negara.

Selain keempat teori tersebut, masih ada teori lain dalam model penyiaran. Adapun ketiga model tersebut menurut Sydney Head ialah model Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Uni Soviet. Model AS bersifat permisif atau terbuka. Model Inggris memiliki sistem paternalistik dan Uni Soviet memiliki model serupa dengan komunias. Keempat teori pers dan ketiga model penyiaran ini bersifat global sehingga semua orang dari berbagai belahan dunia pun memang mempelajarinya. Hal inilah yang menjadi faktor bahwa setiap negara dapat mengangkat teori yang sesuai untuk diterapkan.

*tulisan ini merupakan review dari presentasi di mata kuliah Etika Komunikasi*